Konsep Liberal

Orang-orang liberal mepunyai suatu konsep dalam beragama yaitu interpretasi. Jadi setiap orang, punya ide, punya gagasan atau punya penafsiran tentang sebuah ayat atau hadist yg tidak boleh disalahkan.

Contohnya. Ketika ada orang islam yg mengatakan bahwa jilbab itu adalah sebuah kewajiban, mereka akan mengatakan ini adalah suatu interpretasi dari seseorang. Disana kita harus melihat interpretasi-interpretasi lainnya. Tidak bisa seseorang mengambil hanya satu penafsiran dari seseorang.  Padahal interpretasi yg benar apa yang datang dari sahabat nabi saw. Sehingga kita punya standar baku dalam beragama. Semua para sahabat dan ulama sudah berbicara, ini konsepnya kita tinggal mengikutinya.

Cara kita menghindar dari liberalisme adalah dengan meninggalkan semua hal yg terkait dengan mereka. Jika ada tayangan-tayanganya maka tinggalkan, ada buku-bukunya tinggalkan.

Pergerakan masuknya liberalisme ini sangatlah halus. Kadang-kadang kita tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. mereka sangat pintar dalam beretorika yang sangat menarik dan berbicara seolah-olah apa yang dikatakannya semuanya benar, namun dibalik itu semua sangatlah berbahaya. Hal ini seperti yang difirmankan oleh Allah Swt dalam surah Al-Baqarah ayat 204 :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras”

Ketika sang guru dan murid berbeda pendapat tentang pembagian rezeki

Imam Malik (Guru Imam Syafii ) dalam sebuah majlis menyampaikan :

*Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan meberikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya.*

Sementara Imam Syafii sang murid berpendapat lain :

*Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki.*

*_Guru dan murid bersikukuh pada pada pendapatnya._*

Suatu ketika saat meninggalkan rumah, Imam Syafii melihat serombongan orang tengah memanen anggur. Diapun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafii memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa.

*Imam Syafii senang, bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya. Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki. Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.*

Bergegas dia menjumpai Imam Malik sang guru. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, dia bercerita. . Imam Syafii sedikit mengeraskan bagian kalimat  *“seandainya saya tidak keluar rumah dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.”*

Mendengar itu Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Imam Malik berucap.

*“Sehari ini aku memang tidak keluar rumah…hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur.* ……Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku.*

*Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.”*

Guru dan murid itu kemudian tertawa. Dua Imam madzab mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama.
Begitulah cara Ulama bila melihat perbedaan, bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya saja.

Segala Pujian Hanya Milik Allah

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin, “Segala puji hanya milik Allah”.

Kata ”Al” didalam kalimat “Alhamdu” di artikan dengan “segala” yaitu makna komprehensif atau tanpa terkecuali. jadi semua jenis pujian kembali kepada Allah. Nah, konsekwensinya adalah ketika kita katakan semua pujian hanya milik Allah, berarti jangan mengambil bagian dari pujian itu sehingga berkuranglah sifat pujian kita kepada Allah. Contoh, Ketika anda punya seorang anak yang dilatih membaca alquran sampai hafal 30 juz. tiba tiba teman anda berkata, “Masyaallah anaknya pintar sekali hafal quran”. Maka anda katakan “Alhamdulillah ! Semua karena Allah“. Cukup. Jangan anda tambahkan lagi dengan kalimat-kalimat lain, kalau anda tambahkan dengan kalimat lain maka akan berkurang pujian itu. Contoh ” “Alhamdulillah ! Semua karena Allah, Saya juga berdoa setiap malam dan saya latih setiap hari, saya antarkan dia kepada guru-guru yang baik. Maka itu akan berkurang nilai pujian tersebut.

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai